Friday, 14 August 2026

ANEKDOT 2 (struktur teks)

 

Perhatikan kedua teks anekdot berikut!

Teks 1 Judul: Bongkar Pasang Aspal Jalan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa menjelang akhir tahun, anggaran dinas di berbagai instansi pemerintah harus segera dihabiskan agar tahun depan anggarannya tidak dipotong. Hal ini menciptakan berbagai proyek mendadak yang unik dan sering kali membagongkan warga setempat.

Di sebuah kawasan pinggiran kota, Pak Burhan sedang duduk santai di teras rumahnya sambil menyeruput kopi hitam hangat. Hari baru menunjukkan pukul tujuh pagi ketika sebuah truk proyek berukuran besar dan mesin stoom walls berhenti tepat di depan rumahnya. Beberapa pekerja berkaos oranye turun dan langsung mulai membongkar aspal jalanan komplek yang sebenarnya baru seminggu lalu selesai diaspal mulus.

Melihat hal itu, Pak Burhan yang merasa kebingungan langsung berjalan mendekati Mandor proyek yang sedang memegang papan jalan dan berkas kertas.

"Pak Mandor, maaf mau tanya. Ini jalanan kan baru minggu lalu diaspal halus, kok sekarang sudah dibongkar lagi? Ada kebocoran pipa air atau instalasi kabel di bawahnya?" tanya Pak Burhan dengan nada penasaran.

Sang Mandor menyapu keringat di dahi, lalu menjawab santai tanpa rasa bersalah. "Oh, tidak ada pipa yang bocor, Pak. Ini kami dari Dinas PU sedang menjalankan proyek pengaspalan ulang."

Pak Burhan makin heran. "Lho? Pengaspalan ulang bagaimana? Wong aspalnya masih mulus begini, tidak ada berlubang sedikit pun!"

Mandor tersebut mendekatkan diri dan berbisik pelan, "Aduh, Pak Burhan... Ini kan sudah bulan November. Anggaran tahun ini masih sisa banyak. Kalau uangnya tidak kita pakai buat bongkar dan pasang aspal lagi sekarang, nanti anggaran dinas kami untuk tahun depan bakal dipotong oleh kementerian!"

Pak Burhan melongo. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, kehabisan kata-kata atas logika proyek tersebut. "Astaga... Jadi jalanan mulus dibongkar cuma demi menghabiskan uang negara?!"

Mandor itu mengangguk sambil tersenyum lebar. "Tepat sekali, Pak! Bapak cerdas. Lagipula kalau jalannya mulus terus, nanti kontraktor seperti kami makan apa tahun depan?"

Pak Burhan hanya bisa mengelus dada sambil kembali ke teras rumahnya. Sejak hari itu, Pak Burhan paham bahwa di negaranya, jalanan yang rusak adalah musibah, tetapi jalanan yang terlalu mulus adalah "ancaman" bagi anggaran dinas.

 

Teks 2 Judul: Ujian Kejujuran Pejabat

Ruang aula besar di Gedung Pelatihan Aparatur Negara mendadak hening. Seorang fasilitator pelatihan kepemimpinan berdiri di depan puluhan pejabat daerah yang sedang mengikuti seminar etika dan integritas. Di atas meja fasilitator, terdapat sebuah kotak kayu tertutup yang misteri.

"Bapak dan Ibu Pejabat yang saya hormati," buka Fasilitator dengan suara berwibawa. "Di dalam kotak ini terdapat sebuah alat pendeteksi kebohongan paling canggih di dunia. Alat ini tidak membutuhkan kabel atau sensor. Alat ini bekerja berdasarkan respons suara. Jika seseorang mengucapkan kebohongan di dekatnya, alat ini akan berbunyi BEEP sangat keras."

Para pejabat saling berpandangan dengan wajah tegang.

"Kita uji coba sekarang," lanjut Fasilitator. Ia memanggil salah satu pejabat daerah berpangkat tinggi ke depan. "Silakan berdiri di samping kotak ini dan sebutkan satu pernyataan tentang dedikasi Anda."

Pejabat itu maju dengan membusungkan dada, membenarkan letak dasinya, lalu berbicara dengan percaya diri ke arah mikrofon. "Selama lima tahun saya menjabat sebagai Kepala Dinas, saya tidak pernah menerima uang suap atau gratifikasi satu rupiah pun!"

BEEEEEEEP!

Kotak kayu itu berbunyi nyaring seketika. Suasana ruangan mendadak gempar dan penuh kasak-kusuk. Pejabat tersebut wajahnya langsung merah padam dan buru-buru kembali ke kursinya.

Fasilitator tersenyum tipis, lalu menunjuk pejabat kedua. "Silakan Pejabat B, giliran Anda."

Pejabat B maju dengan ragu-ragu. Ia menyapu keringat dingin di lehernya. Agar aman dari bunyi alarm, ia memutuskan untuk mengucapkan kalimat yang menurutnya paling jujur dan aman.

Pejabat B menarik napas dalam-dalam lalu berkata, "Saya berpikir... bahwa saya adalah pejabat paling jujur di provinsi ini."

BEEEEEEEP!

Alat itu kembali berbunyi sangat keras sebelum Pejabat B bahkan selesai mengatupkan mulutnya.

Melihat dua rekannya tumbang, seorang Pejabat C yang terkenal senior berdiri dari kursi belakang, memegang mikrofon meja, lalu berteriak gusar, "Ah, alat ini pasti rusak! Saya percaya..."

BEEEEEEEEEEEEEP!

Alat tersebut langsung memotong perkataan Pejabat C dengan bunyi dengkingan yang jauh lebih keras, padahal Pejabat C baru saja mengucapkan kata "Saya percaya". Seluruh peserta seminar langsung tertunduk dan diam seribu bahasa.

Soal

1. Analisislah kedua struktur anekdot tersebut. Kemudian teks manakah yang tidak memiliki struktur yang lengkap?

2. Jelaskan fungsi struktur (yang tidak lengkap) tersebut, kemudian beri alasan mengapa struktur tersebut diperlukan ?

3. "Analisislah bagaimana bagian Krisis dan Reaksi pada teks anekdot di atas saling bekerja sama dalam membangun kritik sosial dan pesan moral! Sertakan kutipan teks sebagai bukti dan berikan alasan yang logis untuk mendukung analisismu."

4. "Menurut kalian, di bagian struktur manakah (Orientasi, Krisis, atau Reaksi) kritik sosial dalam anekdot (teks 1) ini paling terasa tajam? Mengapa bagian struktur tersebut menjadi kunci utama penyampaian pesannya?"


ANEKDOT 2 (struktur teks) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: melati

 

Top